Senin, 20 Juni 2011

Taman Nasional Danau Sentarum




Taman Nasional Danau Sentarum merupakan perwakilan ekosistem lahan basah danau, hutan rawa air tawar dan hutan hujan tropik di Kalimantan.
Danau Sentarum sebagai danau musiman yang berada di taman nasional ini terletak pada sebelah cekungan sungai Kapuas, yaitu sekitar 700 km dari muara yang menuju laut Cina Selatan. Dibatasi oleh bukit-bukit dan dataran tinggi yang mengelilinginya, Danau Sentarum merupakan daerah tangkapan air dan sekaligus sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas. Dengan demikian, daerah-daerah yang terletak di hilir Sungai Kapuas sangat tergantung pada fluktuasi jumlah air yang tertampung di danau tersebut.
Taman Nasional Danau Sentarum memiliki tumbuhan khas dan asli yaitu tembesu/tengkawang (Shorea beccariana). Selain itu juga terdapat tumbuhan hutan dataran rendah seperti jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp.), keruing (Dipterocarpus sp.), dan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri).





Sistem perairan dari danau air tawar dan hutan tergenang ini menjadikan Danau Sentarum tidak seperti danau-danau lainnya. Airnya bewarna hitam kemerah-merahan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya. Pada saat musim hujan, kedalaman air danau tersebut dapat mencapai 6-8 meter dan menyebabkan tergenangnya hutan sekitarnya. Tetapi, pada saat musim kemarau, dimana tinggi air di Sungai Kapuas berangsur-angsur turun, air dari Danau Sentarum akan mengalir ke Sungai Kapuas sehingga debit air di sungai tersebut relatif stabil. Akhirnya pada saat puncak musim kemarau, keadaan Danau Sentarum dan daerah sekitarnya akan menjadi hamparan tanah yang luas. Ikan-ikan yang tadinya berada di danau, akan terlihat di kolam-kolam kecil.




Kehidupan masyarakat yang berada di sekitar taman nasional yaitu suku Dayak Iban, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan masih tradisional. Rumah panjang (Betang) yang dihuni oleh suku tersebut beragam besarnya, ada yang dihuni lima sampai delapan kepala keluarga dan ada yang dihuni 15 sampai 30 kepala keluarga. Rumah panjang yang dihuni 15 – 30 kepala keluarga, mempunyai panjang rata-rata 186 meter dan lebar 6 meter. Kehidupan di rumah betang memperlihatkan suatu kerukunan, kepolosan dan keramahtamahan suku tersebut, dan biasanya wisatawan akan disuguhi tarian dayak.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Bukit Lanjak, Nanga Kenelang dan Bukit Tekenang.
Melihat panorama danau, bersampan dan pengamatan satwa burung dan penelitian yang dilengkapi sarana laboratorium.
Cara pencapaian lokasi :
Cara pencapaian lokasi: Pontianak-Sintang-Semitau menggunakan kendaraan roda empat sekitar 11 jam atau Sintang-Semitau menggunakan longboat (bandong) ditempuh sekitar tujuh jam. Dari Semitau ke lokasi menggunakan perahu motor jurusan Lanjak. Pontianak-Putussibau dengan pesawat terbang sekitar dua jam dan dari Putussibau ke Nanga Suhaid dengan longboat sekitar tujuh jam.



Kantor: Jl. Abdurahman Saleh No. 33
Pontianak, Kalimantan Barat
Telp. / Fax. : (0561) 734613

Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 34/Kpts-II/99
luas 132.000 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kabupaten Kapuas Hulu,
Provinsi Kalimantan Barat
Temperatur udara 26° - 30° C
Curah hujan 1.200 - 1.500 mm/tahun
Ketinggian tempat 37 - 40 meter dpl
Letak geografis 0°39’ - 1°00’ LU, 111°56’ - 112°25’ BT

Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya






Kawasan hutan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya didominir oleh puncak-puncak pegunungan Schwaner. Keberadaan pegunungan tersebut merupakan perwakilan dari tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan dengan kelembaban relatif tinggi (86%).
Tercatat 817 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 139 famili diantaranya Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, dan Ericadeae. Selain terdapat tumbuhan untuk obat-obatan, kerajinan tangan, perkakas/bangunan, konsumsi, dan berbagai jenis anggrek hutan. Terdapat bunga raflesia (Rafllesia sp.) yang merupakan bunga parasit terbesar dan juga tumbuh di Gunung Kinibalu Malaysia. Tumbuhan endemik antara lain Symplocos rayae, Gluta sabahana, Dillenia beccariana, Lithocarpus coopertus, Selaginnella magnifica, dan Tetracera glaberrima.
 

Satwa mamalia yang dapat dijumpai antara lain macan dahan (Neofelis nebulosa), orangutan (Pongo satyrus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung merah (Presbytis rubicunda rubicunda), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rusa sambar (Cervus unicolor brookei), bajing terbang (Petaurista elegans banksi), dan musang belang (Visvessa tangalunga).


Jenis burung yang menetap di taman nasional ini antara lain enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkok badak (Buceros rhinoceros borneoensis), enggang hitam (Anthracoceros malayanus), delimukan zamrud (Chalcophaps indica), uncal kouran (Macropygia ruficeps), kuau raja (Argusianus argus grayi), dan kuau kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri). Kuau kerdil merupakan satwa endemik pulau Kalimantan yang paling terancam punah akibat kegiatan manusia di dalam hutan.




Masyarakat asli yang berada di sekitar taman nasional merupakan keturunan dari kelompok suku Dayak Limbai, Ransa, Kenyilu, Ot Danum, Malahui, Kahoi dan Kahayan. Karya-karya budaya mereka yang dapat dilihat adalah patung-patung kayu leluhur yang terbuat dari kayu belian, kerajinan rotan/bambu/pandan dan upacara adat.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Bukit Baka.
Pendakian, menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan. Bukit ini mempunyai ketinggian 1.620 meter dpl, dan sering ditutupi kabut dengan suhu udara antara 15° - 20°C. Puncak Bukit Baka dapat ditempuh sekitar tujuh jam perjalanan dari Dusun Nanga Juoi Kecamatan Manukung.
Bukit Raya. Pendakian, menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan, wisata budaya. Ketinggian Bukit Raya sekitar 2.278 meter dpl, suhu udara antara 7° - 10°C. Lama pendakian dari Nanga Jelun-dung, dusun Rumokoy, Mihipit, Hulu Labang, Birang Merabai sampai ke puncak bukit sekitar 3-4 hari.
Sungai Senamang, Sepan Apui dan Sungai Ella. Arung jeram, sumber air panas, padang pengembalaan rusa, pengamatan satwa dan air terjun.
Atraksi budaya di luar taman nasional:
Kaburai. Stasiun Pelatihan dan Penelitian Kehutanan yang terletak di Dusun Kaburai. Tumbang Gagu. Melihat rumah panjang tradisional suku Dayak (Betang).
Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d September setiap tahunnya
Cara pencapaian lokasi :
Cara pencapaian lokasi: Pontianak-Sintang-Nanga Pinoh (mobil), 460 km selama sembilan jam dan dilanjutkan ke Nanga Nuak dengan speedboat selama 2,5 jam. Dari Nanga Nuak ke lokasi taman nasional selama dua jam dengan mobil. Atau dari Palangkaraya-Kasongan menggunakan mobil selama 1,5 jam, dilanjutkan menggunakan speedboat selama tiga jam menuju Tumbang Samba, dan ke Tumbang Hiran selama tiga jam dan ke Tumbang Senamang dan Kutuk Sepanggi selama dua dan empat jam.



Kantor: Jl. Dr. Wahidin No. 75
Sintang 78611, Kalimantan Barat
Telp./Fax. (0565) 23521
E-mail: tnbbbr@plasa.com

Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 281/Kpts-II/1992
luas 181.090 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan
Barat dan Kabupaten Kotawaringin Timur

Taman Alun Kapuas | PONTIANAK


Mengunjungi Kota Pontianak tentu belum lengkap bila belum datang ke Taman Alun-alun Kapuas. Meskipun mal, kafe, dan berbagai pusat hiburan lainnya menjamur di Kota Pontianak, tingkat kunjungan wisatawan ke Taman Alun-alun Kapuas tidak menurun. Bahkan, setelah direnovasi secara besar-besaran pada tahun 1999, tingkat kunjungan wisatawan ke taman yang berada di dekat kantor walikota ini kian menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu.
Lokasinya yang strategis dan berada di pusat Kota Pontianak menjadikan taman ini sebagai salah satu tempat rekreasi favorit bagi masyarakat kota untuk melepas penat sehabis bekerja seharian atau sekadar untuk mencari inspirasi.
Taman rekreasi ini terletak di Jalan Rahadi Usman, tepatnya di depan Kantor Walikota Pontianak. Taman Alun Kapuas merupakan tempat yang indah dan nyaman untuk bersantai sambil menikmati pemandangan Sungai Kapuas dengan aktivitasnya. Taman ini dibuka setiap hari mulai dari tengah hari hingga larut malam.
Sebagaimana kota yang berada dekat dengan sungai yang merupakan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, Fery merupakan alat angkutan yang menjembatani Pusat Kota dengan pinggiran Sungai Siantan dan Kampung Beting. Terdapat juga Jembatan Kayu yang dapat digunakan untuk mengitari dan melihat-lihat Kota.
Keistimewaan
Pada sore hari, sambil berdiri di tepi pagar taman, pengunjung dapat menikmati keindahan Sungai Kapuas dan lalu lalang sampan yang menyeberangkan penumpang. Pengunjung juga dapat menikmati eksotisme kawasan ini sambil duduk-duduk di tangga-tangga yang terdapat di tepian sungai (waterfront) dengan mencelupkan kaki ke Sungai Kapuas. Suasana lebih sempurna jika dilakukan bersama keluarga atau sahabat sambil minum teh atau kopi. Akan lebih seru lagi bila pengunjung menikmati keindahan kawasan ini sambil makan bakso, kacang rebus, sate, jagung bakar/rebus, dan makanan ringan lainnya yang banyak dijajakan pedagang di sepanjang jalan di kawasan tersebut.
Pada malam hari, apalagi di akhir pekan atau di waktu-waktu liburan lainnya, pengunjung taman ini bertambah banyak. Sambil duduk lesehan berkelompok, pengunjung dapat menikmati pesona kawasan ini, melihat lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah penduduk di seberang sungai yang memancarkan sinar terang atau lampu-lampu motor air yang melintasi sungai.
Suasana malam kian hidup dan romantis dengan hadirnya pengamen yang membawakan lagu-lagu yang sedang hit dengan diiringi permainan gitar yang memukau atau gesekan biola yang mendayu-dayu. Pengunjung dapat meminta mereka untuk menyanyikan lagu-lagu kesukaan dengan memberikan tips sekedarnya.
Bila bosan, pengunjung dapat menikmati sisi lain taman dengan menyewa motor air untuk mengelilingi kawasan taman tersebut atau mencoba beberapa permainan ketangkasan yang memberikan sebungkus rokok atau sebotol sirup sebagai hadiahnya.
Pada hari-hari tertentu diadakan agenda wisata rutin, seperti festival layang-layang, pameran lukisan, pameran tanaman hias, panggung hiburan, dan pasar murah.
Lokasi
Taman Alun-alun Kapuas terletak di Jalan Rahardi Oesman, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
Akses
Taman Alun-alun Kapuas terletak di pusat Kota Pontianak dan dilalui oleh trayek angkutan kota, sehingga pengunjung dapat mengaksesnya dengan mudah dari segala penjuru Kota Pontianak. Selain dengan angkutan kota, pengunjung juga dapat mengakses taman tersebut dengan naik taksi.
Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di sekitar kawasan Taman Alun-alun Kapuas terdapat berbagai fasilitas, seperti masjid, ATM, bank, taman parkir, arena bermain anak-anak, persewaan motor air, pusat perbelanjaan, restoran, warung makan, kantin, pedagang kaki lima, sentra oleh-oleh dan cenderamata, warung internet, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, serta wisma dan hotel dengan berbagai tipe.

Sotong Pangkong Pontianak




Sotong Pangkong merupakan salah satu panganan khas untuk lauk pauk sewaktu berbuka puasa atau sahur oleh sebagian besar masyarakat Kota Pontianak.

Muzanni (42) salah seorang warga Tabrani Ahmad, Sungai Jawi Luar, Kecamatan Pontianak Barat, Minggu (24/8), mengatakan ia dan keluarganya selalu menghadirkan menu sotong pangkong untuk makan sehabis buka puasa atau makan sahur. "Santap malam tapa kehadiran sotong pangkong akan terasa kurang, karena kami sudah terbiasa sejak puluhan tahun lalu selalu menghadirkan menu itu," kata Muzanni.

Sotong Pangkong adalah cumi-cumi yang dikeringkan lalu dibakar. Makanan ini umumnya hanya muncul di meja makan satu kali dalam setahun yaitu sepanjang bulan Ramadhan. "Kalau dibulan lain sulit mendapatkan sotong pangkong, mungkin berkah di bulan Ramadhan," tutur Muzanni.

Sotong pangkong diolah dari sotong atau cumi yang setelah dibakar lalu dipangkong (dipukul-pukul) agar daging cumi yang keras setelah diasinkan menjadi kenyal dan mudah dinikmati. Sotong dibakar pada bara api dengan arang kelapa atau kayu.

Siti Fatimah (46) salah seorang penjual sotong pangkong di Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak Kota, mengatakan, panganan ini hanya digemari dan laku dijual pada bulan Ramadhan. "Kalau di bulan-bulan lain kurang diminati," ucapnya.

Penyajian sotong pangkong cukup sederhana yaitu sotong cukup disajikan dengan kuah kacang atau kuah asam pedas manis agar terasa nikmat dilidah. Siti Fatimah per harinya bisa menjual satu hingga dua kilogram sotong kering, kemudian dijual Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per ekor. "Lumayan pendapatan kotor bisa mencapai Rp 200 ribu per malam dengan keuntungan bersih Rp 70 ribu atau lebih," katanya.

Sekitar puluhan pedagang sotong pangkong berjejer menjual dagangannya di sepanjang Jalan Merdeka Pontianak dan hanya bisa ditemukan di bulan Ramadhan saja. Pedagan sotong menggelar dagangannya mulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Bagaimana rasanya sotong pangkong ini? Asin, gurih, asam dan pedas. Mak nyoss...

Sejarah Robo-Robo | MEMPAWAH


Awal diperingatinya Robo-robo ini sendiri, bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi.
Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.
Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.
Terharu karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robo-robo, yang saban tahun rutin dilakukan warga Mempawah, dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.
Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar diyakini sebagai bulan naas dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur.
Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini. Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robo-robo.
Dinamakan Robo-robo karena ritual ini digelar setiap hari Rabu terakhir bulan Safar menurut penanggalan Hijriah. Tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan, Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada tahun 1737 M/1448 H.
Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.
Keistimewaan
Sebagai sebuah peristiwa budaya, Ritual Robo-robo sarat dengan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai historis dan kultural. Ritual Robo-robo merupakan napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 Perahu Bidar. Kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya ini menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya agama Islam ke Kota Mempawah. Perlahan-lahan, proses islamisasi pun terjadi dan puncaknya adalah beralihnya Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu menjadi kerajaan bercorak Islam.
Pengumandangan azan dan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah sebelum dimulainya Ritual Buang-buang menandakan bahwa dalam prosesi Ritual Robo-robo juga terdapat nilai-nilai religius. Sesajennya yang terdiri dari beras kuning, bertih, dan setanggi pun sarat dengan makna-makna tertentu. Nasi kuning dan bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan setanggi mengandung makna keberkahan. Dalam Ritual Buang-buang tidak semata-mata penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, tapi juga tersirat keinginan untuk hidup selaras dengan alam sekitar.
Ritual ini biasanya dimulai selepas shalat Zuhur, di mana raja Istana Amantubillah beserta para petinggi istana bertolak dari Desa Benteng menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar. Perahu Lancang Kuning khusus digunakan oleh raja, sedangkan Perahu Bidar diperuntukan bagi petinggi istana. Mereka akan berlayar selama satu jam menuju muara Kuala/Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Sesampainya di muara Sungai Mempawah, seorang kerabat istana yang menjabat Pemangku Adat mengumandangkan azan dan membaca doa talak bala (talak balak). Kemudian dilanjutkan dengan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai Mempawah. Setelah itu, raja beserta para petinggi istana merapat ke tepi Sungai Mempawah untuk bersiap-siap melaksanakan Makan Saprahan di halaman depan Istana Amantubillah. Gambaran di atas merupakan sebagian dari rangkaian prosesi Ritual Robo-robo.
Kebersamaan dan silaturahmi antarberbagai elemen masyarakat adalah nilai-nilai lain yang terkandung dalam prosesi Ritual Robo-robo. Hal ini, misalnya, terlihat pada kegiatan Makan Saprahan. Makan Saprahan adalah makan bersama-sama di halaman depan Istana Amantubillah menggunakan baki atau talam. Setiap baki/talam (saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya diperuntukan bagi empat atau lima orang. Dalam Makan Saprahan keakraban terjalin, suasana mencair, dan sekat-sekat melebur jadi satu. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status, agama, dan asal-usul seseorang.
Hal lain yang tak kalah menariknya dalam Ritual Robo-robo adalah dihidangkannya berbagai masakan khas istana dan daerah setempat yang mungkin tidak lagi populer di tengah-tengah masyarakat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan masak asam pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan kue sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan pisang raja. Sementara untuk minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat memulihkan stamina.
Untuk memeriahkan Ritual Robo-robo, biasanya ditampilkan aneka hiburan tradisional masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin, dan lomba perahu bidar.
Lokasi
Lokasi prosesi Ritual Robo-robo tersebar di beberapa tempat di Kota Mempawah, seperti di muara Sungai Mempawah di Desa Kuala Mempawah, Istana Amantubillah dan Kompleks Pemakaman Sultan-sultan Mempawah di Kelurahan Pulau Pedalaman, serta Makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
Akses
Kota Mempawah berjarak sekitar 67 kilometer di sebelah utara Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, turis dapat naik taksi, travel, dan bus sampai Kota Mempawah, ibukota Kabupaten Pontianak. Dari Kota Mempawah, Muara Sungai Mempawah berjarak sekitar 10 kilometer. Turis dapat mengaksesnya dengan menggunakan bus atau minibus.
Harga Tiket
Pelancong yang ingin menyaksikan Ritual Robo-robo tidak dipungut biaya.
Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Bagi wisatawan dari luar kota dan ingin menyaksikan prosesi Ritual Robo-robo secara keseluruhan, dapat menginap di hotel dan wisma yang banyak terdapat di sekitar lokasi Ritual Robo-robo.
Di kawasan tersebut juga terdapat toko, rumah makan, dan warung yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan, seperti makanan, minuman, dan isi ulang pulsa.
Berbagai fasilitas lainnya, seperti masjid, kios wartel, bank, dan ATM, juga tersedia di sini.
Sumber : Equator

Pisang Goreng Pontianak | PONTIANAK


Pontianak terkenal dengan sebutan daerah katulistiwa yang subur, terkenal juga dengan sungai kapuas dan makanan aneka olahan lidah buaya yang lezat. Namun bila anda berkunjung ke Pontianak, jangan lupa untuk menikmati salah satu menu kuliner andalannya yang lain, yaitu pisang goreng Pontianak. Sebab, pisang goreng Pontianak telah menjadi icon wisata kuliner disana. Pisang goreng memang merupakan salah satu makanan yang sudah akrab dikalangan masyarakat Indonesia. Ada banyak jenis pisang goreng di Indonesia. Lalu apa keistimewaan pisang goreng Pontianak ini?
Dibanding pisang goreng lainnya, Pisang Goreng Pontianak memiliki sesuatu yang unik dikarenakan adanya kremesan yang membungkus pisang goreng tersebut, sehingga akan terasa sangat renyah saat di kunyah. Namun tepung/keremesnya tidak terlalu banyak, sehingga, bentuk asli pisang masih terlihat. Pisang goreng Pontianak adalah jajanan dengan bahan dasar berupa pisang kepok yang dilapisi dengan tepung terigu, telur, dan kapur, serta berbentuk kipas.
Proses penggorengan pisang goreng Pontianak dilakukan dua kali. Pisang yang digoreng matang dapat tahan hingga seharian, namun pisang yang digoreng setengah matang dapat tahan disimpan hingga 4 hari. Jadi cocok untuk dijadikan oleh-oleh bila Anda berkunjung ke Pontianak. Jika ingin dikonsumsi tinggal digoreng kembali. Selain rasa original pisang yang lezat, pisang goreng ini akan terasa lebih nikmat jika ditambah rasa coklat, susu, pandan, durian, blueberry, strawberry, kacang, nangka, mocca, keju dan lain-lain.
Ternyata pisang goreng Pontianak tidak hanya terkenal didaerahnya, namun telah menyebar ke kota-kota lain seperti Jakarta. Pengunjungnya bahkan rela antri berderet-deret panjangnya untuk dapat menikmati pisang goreng kres ini. Ingin mencoba membuat pisang goreng Pontianak yang kres ini, simak langkah-langkah berikut:


Ingredients:
Bahan :
  1. 1 sisir (10 buah) pisang kapok.
  2. 1½ lt minyak goreng.
    Bahan Pencelup:
  3. 125 tepung terigu protein sedang
  4. ¼ sdt garam
  5. 250 ml air
  6. 1 sdm tepung beras
  7. 1½ sdm gula tepung
Bahan Kremesan :
  1. 1 lt air
  2. 240 gr tepung beras
  3. 45 gr tepung sagu tani
  4. 1 sdm garam
  5. 20 gr gula merah, disisir halus
  6. 2 kuning telur
  7. pewarna kuning tua secukupnya (boleh tidak dipakai)
Cara Pembuatan:
  1. Potong pisang seperti kipas melebar. Sisihkan.
  2. Aduk bahan pencelup sampai rata.
  3. Aduk bahan kremesan sampai rata.
  4. Panaskan minyak goreng. Tuang satu sendok sayur adonan kremesan. Biarkan mengambang. Kecilkan api. Kumpul-kumpulkan adonan sehingga menyatu.
    Celup pisang ke bahan pencelup. Masukkan ke bagian tengah kremesan yang sudah dikumpulkan. Lipat kremesan hingga menutupi pisang.
  5. Goreng sampai matang.
Tips :
Pemilihan pisang harus tepat. Jika terlalu masak atau masih mengkal, rasa pisang akan berubah. Pisang yang masih mengkal akan memberikan hasil yang bagus karena pisangnya masih kering, rasanya agak sepat. Begitupula jika pisang terlalu masak hasil gorengannya tidak bagus, karena terlalu berair.
Berikan daun pandan pada minyak yang akan digunakan untuk menggoreng agar pisangnya memiliki aroma yang harum.
Menggoreng pisang kremes lebih baik menggunakan 2 penggorengan yang masing-masing diisi minyak panas. Penggorengan pertama digunakan untuk menuang bahan kremes hingga melipat adonan. Penggorengan kedua digunakan untuk mematangkannya.
Pada saat menuang bahan kremesan minyak harus benar-benar panas agar bahan kremesan naik dan mengambang.
Setelah bahan kremesan mengambang, kecilkan api agar bahan kremesan tidak cepat kering.